Selasa, 05 April 2011

Senja (sebuah puisi)

 karya Doddy Nai Botha
 
Jingga,
Menyusur, menghampar, merayap.
Beriring awan melintasi langit
Di baliknya sang surya mengintip.
Mentari akan segera terbenam,
Saat perpisahan siang dan malam.
Dalam hati serasa bergumam :
Sungguh indah lukisan senja, mahakarya sang Mahakuasa,..

BACA SELENGKAPNYA DISINI

My Brother Being a Father on Twenty (sebuah cerita mini)

 maria pankratia

Bayi mungil dua kilogram itu meringkuk diam dibalik lampin Rumah Sakit Sanglah. Aku terpekur diam, seraya memalingkan wajah ke arah Ibunya yang kini spontan sehat dan bahagia. Entahlah, aku sedang tidak tau apa yang ada dipikirannya namun ketegangan dua jam yang lalu berangsur mencair.

Satu gumaman lewat saat perawat jaga mendorong keluar mereka berdua dari INstalasi Gawat Darurat tiga puluh menit yang lalu

"wah, dia mirip Bapak. Tonjolan disamping wajah tepat didekat telinga itu, tak salah lagi itu punya Bapak"

BACA SELENGKAPNYA DISINI

Senin, 04 April 2011

Ruang Rindu (sebuah cerita mini)

 karya Sandra Olivia Frans

Ada suatu ruang tersembunyi dalam rumah hati. Namanya Ruang Rindu. Ruang itu bukanlah yang paling besar dan nyaman dari setiap kamar yang ada. Sebaliknya, ruangan ini sempit dan sudah tertumpuk banyak benda. Ruangan ini memiliki banyak kotak. Setiap kotak memiliki nama. Seperti loker siswa. Tepat seperti itu. Dalam setiap loker tersimpan semua kenangan bersama orang itu. Entah indah, entah menyakitkan, entah kecewa, entah cinta, entah lucu, entah memalukan. BACA SELENGKAPNYA DISINI

Sabtu, 02 April 2011

Kisah Si Jantan dan Si Betina (sebuah puisi estafet)

by Ecka Anastasia (Ende) & Christian Dicky Senda (Jogjakarta)
-mendukung gerakan MUDAers NTT Menulis-

sang jantan:

aku hanya sedang berusaha memahami
arti wajahmu dan wajahnya di dinding
kamarku...
seperti merona biru
yang terpancar dari seribu malam yang sudah kugenggam.
 ''suatu hari aku berlari kencang dalam
sebuah episode mimpi. seperti kuda jantan aku
berlari ke hutan yang berdaun kunang-kunang. 
tapi aku bukan kuda, hanya mataku yang mirip kucing.
dengan tulang hidung besar,
kejantanan yang menggantung.''

sesungguhnya aku mempunyai dua mata,
mata kucing dalam mimpi dan mata layu karena aku
tak lagi tangguh berlari. aku bukan kuda,
aku hanya dua rupa dalam dua dunia yang berbeda...''
kataku suatu malam, dibalik punggungmu yang lelah.

hatiku tak bergeming, hanya mencoba untuk
memahami arti wajahmu dan wajahnya di dinding kamarku.

bintik-bintik biru di wajahmu makin menyala....

sang betina:

aku memancarkan betina yang menggigit
Binal dan liat;
Pada dinding yang tak pernah sunyi
Mimpi yang tak mau sepi
Hingga bualan yang hinggap jelang gulita
Menjelma cerita

Pada dindingmu wajahku singgah sekejap lalu
Bersama lelahku yang kuyup
Berpendar biru;
Hanya untuk menjadi redup
Kala bersanding dengan auranya yang berkilat bak petir kelabu
Saat hujan menggenang di pelupuk matamu yang abuabu

Bukankah pada punggungmu yang lelah berkeringat
Aku tiupkan bisikbisk dari mimpi yang menggeliat;
Bahwa pada hutan berdaun kunangkunang, belum
kutemukan bau keringat uang yang membuatku lupa
pada episode mimpi berburu fiksi?
Episode dimana aku menjadi binal dan liat
Pada kelopak yang tertidur
Tapi tidak pada kilatan kelopak matamu yang selalu abuabu;

Aku jantan, kucing, aku biru, aku rapuh
aku satu yang sejatinya dua

Aku bukan jantan, aku bukan kucing, aku tidak biru,
aku tak mau rapuh
aku layu setelah biru yang menyala

Aku mau mewujud abu pada pelupuk matamu yang abu abu

sungguh, aku sedang merindukan rentetan pergunjingan
tentang tatacara 
percintaan kita
dimana wajahmu dan wajahnya sedang menjilat biruku.....

Jogjakarta, 2 Maret 2011
21.31 WIB

*jarak Jogja-Ende tak menjadi masalah untuk menulis...*

Bola Kaki (sebuah sajak)

 karya: Ecka Anastasia (Ende)

sajak ini tak perlu rumit
sebab hanya berisi omelan pahit
Soal bola yang terjepit
Diantara kaki para elit

Baru kemarin mereka bilang
Ini soal nasionalisme,sayang
Bukan rayuan gombal minta uang
Sebab dengan jiwa yang berkobar kau berteriak di tanah lapang
Garuda di dadaku! Tanpa kepentingan yang menggerayang
Hanya kau dengan kaos merah membayang
Dan airmata yang siap menggenang
Jika kita tak menang

Hari ini mereka sibuk
Wajah mereka menekuk
Membagi diri dalam dua kubu,saling menggaruk
Pada tempat yang tak gatal, media pun kemaruk
Entah apa yang mereka keruk
Jatah iklan atau rating, aku tak tahu
Yang aku tahu mereka membeli simpati
wanita pemuja pangeran tampan bola kaki
namanya tak usah kusebutkan karena kini sudah jadi selebriti
Kau tahu dia siapa
Wajahnya muncul dua tiga kali dalam tempo setengah hari
Di televisi

Sungguh aku ingin meludah kesal
Mengganti nama sepak bola dengan bola kaki yang lebih fenomenal
Sebab jika kusebut sepak bola, bola tersepak asal
Bisa disepak kaki, bisa dihantam tangan
Sarat kepentingan dengan subyek tak jelas
Jika kusebut bola kaki, bola terjepit pada kaki
Kita kembali pada hakikat
Jika bola dijerat kaki elit, bisa kita rebut
Jika bola terselip pada kaki jelata, mari bermain
Bola kaki
Dengan hati
Jangan kau campur dengan drama politik
Nanti bisa jadi tragedi pelik
Sebab Prestasi, cuma soal bola dan kaki
Dua sahabat sejati yang tak pernah tercera

Ende, 5 Januari 2011
untuk MuDAers NTT MENULIS

Jumat, 01 April 2011

Anjing Bedebah

mandi peluh di negeri ini
selaksa kisruh malaikat tak berhati
cacian, hinaan menjadi sarapan rohani
bangunkan jiwa kokoh yang sekarat

negeri ini adalah negeri tak berakal
lahirkan anak menjadi pisau dari ketamakan

dalam hujatan doa
harta yang dipinta


baca selengkapnya KLIK DISINI

Suanggi (sebuah cerita mini)

 untuk MuDAers NTT Menulis

Aku balas kau!
Satu lagi jarum menancap di kepala boneka. Terdengar lagi teriakan seorang perempuan dari Flamboyan 66.
Kau pikir enak menanggung malu beberapa hari mendekam di penjara? Belum lagi tuduhan orang-orang padaku sebagai PEREMPUAN TUKANG FITNAH! Sekarang kubalas kau!
“Arrgggh!!! Kepalaku sakit!”
Kau tau apa tentang orangtuamu!? Mereka memang suanggi dan mati termakan ilmu sendiri! Haahaahaa.
Perempuan lain di Flamboyan 64 terkekeh—mengerikan. Dendamnya pada perempuan di Flamboyan 66 terbalaskan. 2 tahun lalu, 7 hari ia mendekam di penjara karena dituduh memfitnah tetangganya suanggi. 2 tahun ia menunggu waktu yang tepat untuk membalas dendam pada anak dari pasangan suanggi itu… perempuan yang telah melaporkannya pada yang berwajib dengan tuduhan memfitnah! 2 tahun waktu yang pas agar tetangga lain tidak menuduhnya balas dendam.
Pembalasan yang manis!