Sabtu, 23 April 2011

MuDAers NTT Menulis: Seperti Cendana, Mari Wangikan NTT!


Beberapa orang teman bertanya kepada saya bagaimana caranya bergabung dengan kelompok MuDAers NTT Menulis setelah melihat postingan-postingan kami tentang gerakan baru ini. Saya pun tahu betul, mereka yang mengajukan pertanyaan adalah orang-orang yang juga sering menulis di facebook bahkan punya blog pribadi. Terima kasih banyak sejauh ini sudah ada banyak perhatian dan dukungan postif dari banyak teman MUDA NTT sendiri. Saya percaya di luar grup ini, ada banyak sekali anak MUDA NTT yang punya bakat menulis dan suka menulis. Kami bahkan masih baru tapi semangat ini sudah mengajarkan kami untuk memulainya dengan apa adanya. Toh masih ada banyak waktu kedepannya yang bisa kami gunakan untuk saling mendukung, saling belajar, membagi ilmu dan saling mengkoreksi satu sama lain. 

Kebetulan sekali bahwa jauh sebelum gerakan ini muncul, saya dan teman-teman di MuDAers NTT memang sudah saling kenal, bahkan dekat sekali. Misalnya, Maria Pankratia, Ecka Anastasi dan Doddy Nai Botha, saya mengenal mereka sejak SMA di Syuradikara Ende tahun 2002 dan saya tahu betul mereka adalah pribadi-pribadi hebat, juga yang punya kebiasaan baik yakni menulis. Maria, misalnya, yang dulunya paling aktif menghidupkan majalah dinding Syuradikara. Begitupula dengan kak Tuteh, yang awalnya saya kenal hanya lewat suaranya di radio Gomezone FM di Ende, belakangan ketika di Jogja, saat sedang nonton Kick Andy, nama Tuteh Pharmantara muncul disana. Saya kaget. Ini karena buku cerfet (cerita estafet) yang ia tulis bersama 3 orang teman di dunia maya diterbitkan oleh penerbit yang gak tanggung-tanggung besarnya, Gramedi Pustaka Utama! The Messenger, buku cerfet itu. 

Teman saya, Yoyarib K Mau, juga adalah penulis produktif terutama untuk topik-topik politik. Ada juga Abdul M Djou, sarjana dari fakultas sastra Undana ini adalah salah satu pegiat di komunitas sastra Rumah Poetica Kupang. Ia adalah penulis sastra Muda NTT yang hebat, paling tidak terlihat ketika saya membuka google.com, disana ada beberapa analisis atau kritik terhadap perkembangan dunia sastra di NTT dan ada namanya disana, yang mewakili penulis karya sastra muda, bersama Rene Patiradjawane, Charlemen Djehadael dari Rumah Poetica. Mereka bahkan disejajarkan dengan Maria Matildis Banda dan Mezra Pellondou. 

Nama lain yang turut mendukung misi MuDAers NTT Menulis, adalah Sandra Olivia Frans dan Eddie Djea. Sandra memang gak asing karena saya sudah mengenal nama itu bahkan sejak SMP ketika beberapa kali sama-sama mengikuti pekan ilmiah remaja se-kabupaten TTS. 

Kedepan, gak menutup kemungkinan ada lagi MuDa2 berikutnya yang bergabung. Dengan senang hati.
Saat ini, karena kami berada di kota-kota berbeda, puji Tuhan , dengan adanya fasilitas internet hal ini sangat membantu interaksi kami satu sama lain. Via internet kami melakukan yang namanya menulis estafet entah berdua atau borongan sekelompok he he. Dari Facebook atau chat box, dari sekedar obrolan ringan, siapa sangkat berujung ke sebuah puisi atau cerita pendek. Satu yang lebih penting yang saya rasakan, kami bahkan bisa saling memotivasi dan saling belajar dari gaya penulisan teman. 

Pada akhirnya, tak lupa juga berterima kasih kepada Komunitas Blogger NTT, yang sudah turut membantu lahirnya grup MuDA NTT. Hingga saat ini, Komunitas Blogger NTT tetaplah ibu dari grup MuDA NTT! 

Percayalah, akan ada Gerson Poyk atau Umbu Landu Paranggi berikutnya yang selalu mewangikan nama NTT, seperti cendana ia akan menebar pesonanya! Are You Ready??

Salam MuDA NTT!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar